Tampilkan postingan dengan label Keremajaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keremajaan. Tampilkan semua postingan

Ngintip Cara Siti Khadijah Mencari Jodoh



Cari jodoh, menentukan jodoh, memilih jodoh, kemudian memeriksa jodoh, memang selalu membingungkan perasaan. Apalagi kalau calon jodohnya lebih dari satu dan sama-sama menawan hati kita. Wah, bisa berabe, tuh milihnya! Hal semacam ini akan bertambah sulit jika perasaan kita kepada keduanya sama besar dan sama tinggi.

Kalua kita melihat Hadis Nabi, sebenarnya ada beberapa kriteria yang bisa kita pilih untuk menentukan jodoh kita: 1) Unsur agama. 2) Kemapanan rupa. 3) Harta 4) Nasab atau berdarah biru. Namun, kami takkan membahasnya di sini, karena akan kami sajikan secara utuh –insya Allah- di tubuh atau inti artikel Ngintip Cara Siti Khadijah Mencari Jodoh ini.

***

Konon, setelah Siti Khadijah RA menyertakan pembantunya, Maisarah bersama Rasulullah SAW untuk berniaga ke kota Syam, perempuan bangsawan Quraisy itu terkejut mendapati dagangannya melimpah dengan laba. Siti Khadijah heran, tidak biasanya hasil dagangannya meraup laba berlipat ganda seperti saat itu. Sejak itu, bibit kekaguman dan  rasa takjub terhadap kepribadian Muhammad SAW mulai tertanam di dalam hati Siti Khadijah RA, dan terus merekah dari waktu ke waktu. Tak terhenti sedikitpun.

Pada akhirnya, Siti Khadijah RA tak bisa membohongi dirinya sendiri. Rasa kagum itu, diam-diam berubah menjadi rasa suka yan tak tertahankan. Selama ini, Siti Khadijah selalu menolak pinangan lelaki-lelaki Quraisy karena masih merasa belum menemukan jodoh yan cocok. Tapi pemuda itu, meski 15 tahun lebih muda dari dirinya, memiliki pesona dan kharisma mulia yang benar-benar memikat. Keadaan selanjutnya, Siti Khadijah yakin bahwa Muhammad SAW adalah jodohnya.
Setelah rasa itu tak bisa lagi didiamkan, Siti Khadijah kemudian memanggil Maisarah. Saat Maisarah datang, beliau menyambutnya dengan pertanyaan yang memendam rasa meronta-ronta.

“Bagaimana menurutmu Muhammad SAW itu?” Siti Khadijah langsung ke pokoh pembahasan

“Dia jujur, pemurah, tidak pernah berkhianat dan berperangai luhur,” jawab Maisarah penuh hormat pada majikannya itu.

“Menurutmu, pantaskah aku bersanding dengannya?” tanyanya lagi, tanpa tedeng aling-aling.

“Sebuah kegembiraan yang amat besar bagi orang yang akan menjalin ikatan suci dengan Anda, wahai tuanku!,” jawab Maisarah berbinar-binar.

Setelah beban hasrat itu sedikit terlepas dari hati dan pikirannya, Siti Khadijah kemudian mengutus Maisarah agar menyampaikan maksud cinta sucinya kepada Muhammad SAW. Di saat Maisarah sampai di kediaman Muhammad SAW dan menyampaikan maksud Siti Khadijah, di luar dugaan, Maisarah terkejut dengan sambutan Muhammad SAW yang luar biasa baik dan penuh respek. Bahkan, terpancar dari aura wajah pujaan tuannya itu kegembiraan yang tak terhingga.

Setelah pertemuan itu, Muhammad SAW menyampaikan pesan Siti Khadijah kepada semua pamannya. Beliau SAW juga mengajukan alasan kenapa mau menerima pinangan tersebut. Setelah dilakukan musyawarah internal keluarga, maka terjadilah kata sepakat serta rencana hari dan tanggal resepsi yang tepat.

***

Begitulah kira-kira dua insan mulia yang bersatu dalam bingkai asmara. Kalau melirik lembaran historis, bukan tanpa alasan Rasulullah SAW menerima pinangan Ibunda Siti Khadijah RA. Semua itu karena dorongan karakter Siti Khadijah yang mulia, intelektualitas tinggi, tokoh terpandang, keturunan darah biru dan saudagar kaya yang disegani.

Dari sini, berarti ikatan cinta antara Ibunda Siti Khadijah RA dan Rasulullah SAW pasti berdasar pada pertimbangan yang sangat matang dan bukan serampangan dengan alasan cinta yang didominasi syahwat manusiawi.

Memang ada beberapa tipe yang cenderung digandrungi lelaki dari sosok wanita. Ada yang karena kecantikannya, kekayaannya, nasabnya dan ada pula yang karena agamanya. Hal ini sebagaimana disinyalir dalam Hadis riwayat Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Ibnu Hibban, Imam Dawud, Imam Ibnu Majah, Imam an-Nasai dan lainnya.

Karenanya, perlu kiranya kami memberikan sedikit bocoran terkait cara memilih jodoh atau pasangan.

Pertama, hendaknya Anda kosultasikan dulu dengan kedua orang tua, teman yang lebih berpengalaman atau guru kita. Hal ini sebagaimana yang dilakukan Siti Khadijah kepada Maisarah, dan juga yang dilakukan Muhammad SAW kepada keluarga, khususnya paman-paman beliau SAW.

Kedua, setelah berembuk dengan mereka, simpulkan dan ambilah jalan kesimpulan yang baik sesuai dengan suara asmara hati Anda. Hal ini juga seperti yang dipraktikkan Nabi Muhammad SAW setelah berembuk dengan keluarganya.

Masih ada masalah yang belum selesai? Sering ada sebagian konsultan (yang diajak rembuk atau musyawarah) yang mengajukan solusi yang berbeda-beda, sehingga menyulitkan Anda untuk memilih kesimpulan baik untuk menemukan jodoh yang pas. Maka, hal yang paling krusial untuk dipertimbangkan adalah: pemahaman agama. Jika aspek ini sudah ada, berarti tujuh puluh persen kriteria perfect sudah terpenuhi.

Selain itu, tentu saja memilih pasangan jangan terlalu idealis. Artinya, dalam mencari jodoh, Anda jangan terlalu memilih kriteria yang terlampau mapan. Kalau tidak shalihah, tidak cantik, tidak kaya, atau tidak berasal dari keturunan darah biru, Anda tidak mau.

Yang paling diingat, sudahkah diri Anda sendiri mememuhi kriteria sebagai orang baik, sehingga merasa pantas bersanding dengan jodoh yang juga baik?
Sebenarnya, kriteria agama saat mencari jodoh sudah menjadi representasi dari segalanya. Jika pengetahuan agamanya mapan, maka yang lain bisa diatur, insya Allah. Namun sebaliknya, jika saat mencari jodoh tidak menemukan unsur agama yang mapan dari pasangan Anda, maka jangan nekat melanjutkan. Bukankah kadang hal yang menurut Anda baik, bisa jadi malah ia meruapakan hal terburuk bagi Anda? Juga sebaliknya, hal buruk kadang malah faktanya menjadi yang terbaik di kemudian hari! (QS al-Baqarah [2]: 216).

Rasulullah pernah bersabda:
اختاروا لنطفكم المواضع الصالحة
“Pilihlah bagi segumpal darah kalian (beristri) tempat yang baik (shalihah).” (HR Imam ad-Daraquthni).

Maksudnya, dalam memilih mencari dan menentukan jodoh, Anda harus ekstra hati-hati. Sebab, salah dalam memilih jodoh, bisa menyebabkan penyesalan berkepanjangan. Di samping itu, Anda juga jangan terlalu berpikiran idealis. Contohlah Rasulullah dalam memilih pasangan. Beliau lebih memprioritaskan pengetahuan agama dan ketinggian akhlak yang baik ketimbang aspek lain. Jika sudah demikian, kebahagiaan akan mewarnai kehidupan Anda selamanya. Insya Allah.

Terakhir, terima kasih karena telah sudi membaca artikel Ngintip Cara Siti Khadijah Mencari Jodoh ini. Jika dirasa bermanfaat, mohon keikhlasannya untuk ikut mengbarkan cara di artikel ini kepada teman-teman yang lain, baik dengan lisan, maupun dengan menge-share-nya.

Membangun Kebersamaan Persahaban


Ketika hendak berpisah, seorang lelaki yang sudah lama berteman dengan Ibrahim bin Adham berkata, “Utarakanlah aib yang pernah engkau lihat dariku, supaya aku bisa memperbaikinya.” Ibrahim kemudian menjawab, “Aku tak pernah menemukan aib dalam dirimu. Selain karena aku tak punya bagian untuk itu, aku juga selalu menganggap baik apa yang engkau kerjakan, dengan mereka-reka alasan atas apa yang telah engkau lakukan. Jika kau tetap ingin tahu, tanyakan saja pada orang lain.”
***
Kisah yang diceritakan Imam al-Qusyairi dalam Risalah-nya ini hanyalah sebagian kecil dari banyaknya cerita indah persahabatan para sufi. Sebuah keindahan yang dapat dirasakan dari cara mereka yang lebih mendahulukan mata bening hati ketika melihat sesuatu, daripada menggunakan pikiran, apalagi nafsu yangnotebene-nya selalu membelenggu dalam kebenaran yang semu.

Melihat semua itu, masih dalam Risalah al-Qusyairiyah, tidak heran jika kemudian ulama sufi kemudian memetakkan persahabatan (yang sesungguhnya) menjadi tiga bagian, yang jika dicermati, semuanya akan menepi pada satu kesimpulan, saling menjaga perasaan. Tiga bagian itu:

Pertama, berteman dengan orang yang lebih tua atau tinggi derajatnya. Jika kita memiliki teman yang seperti ini, maka apapun yang kita lakukan, pada hakikatnya harus didasari dengan khidmah, melayani. Bisa dengan membantu kebutuhan mereka, atau menjaga rasahia dan kesalahan yang mereka lakukan, dengan dasar husnudz-dzan.

Mengenai pelayanan dalam persahaban ini, Sahal bin Ibrahim pernah bercerita, “Aku adalah teman Ibrahim bin Adham. Ketika aku sakit, Ibrahim melayani kebutuhanku dengan hartanya. Saat aku menginginkan sesuatu dan dia tidak punya apa-apa, dia jual kudanya tanpa sepengetahuanku, dan uang hasil menjual itu dia berikan kepadaku. Jauh hari setelah itu, aku menanyakan kudanya. Ketika aku tahu bahwa kudanya telah dijual, aku bertanya, “Lantas, jika ingin keluar, kita naik apa?” Dia menjawab, “Saudaraku, naiklah ke atas leherku ini.” Dia lalu menggendongku hingga tiga tempat persinggahan (Desa/Kota).”

Kedua, berteman dengan orang yang lebih muda umurnya atau lebih rendah derajatnya. Jika mempunyai teman seperti ini, apa yang akan kita lakukan padanya mesti didasari kasih sayang, sebagaimana jika kita berteman dengang orang yang sepadan umur dan sosialnya (bagian ketiga), maka harus saling menjaga perasaan dan memberikan penghormatan.
Dari tiga bagian yang telah disebutkan ini, kita lalu tidak asing dengan pribahasa “Menghotmati yang lebih tua dan mengasihi yang lebih muda”. Yaitu, dua sisi dari persahabatan yang memang mesti dipertahankan dengan saling mengerti dan saling melengkapi.

Namun, dewasa ini, seringkali kita temukan persahabatan yang nampak indah dari luar, tapi kenyataannya sangat busuk dari dalam. Semua itu terjadi karena mereka –bisa jadi juga kita– yang tidak mampu memahami bahwa esensi dari persahabatan adalah menciptakan tali persaudaraan, dan semua itu tidak akan terlaksana jika persahabatan hanya dibangun di atas pondasi egoisme pribadi.

Kita harus mengerti, persahabatan yang ideal akan sangat sulit tercapai jika yang lebih tua terus-menerus menuntut dihormati, sedangkan yang lebih muda tiada henti-hentinya meminta dikasihani. Sama-sama menuntut. Sama-sama tak diberi karena gengsi. Maka sama-sama memakan tuntutannya sendiri. Sama-sama tak dapat apa-apa. Sama-sama kecewa dan terluka. Kosong.

Tiba-tiba saya teringat Madura di pertengahan Ramadhan tiga tahun lalu, saat itu tetangga saya pernah bilang pada temannya, “Cepat ambilkan barang itu.” Mungkin karena bersikap terlalu keras dan memaksa ketika meminta. Mungkin karena yang dimintai tolong sedang lelah menahan teriknya Ramadhan, atau sangat mungkin kerena kedua-duanya, teman itu diam tak menjawab apa-apa. Tetangga saya kemudian membentak, “Kau harus menghormatiku karena aku lebih tua darimu!” Temannya yang lebih muda itu langsung menyela, “Kau harus mengasihaniku, karena aku lebih muda darimu. Maka tolong, ambillah sendiri, kita sama-sama punya kaki!”

             Mungkin, dari sanalah tulisan ini lahir. Mungkin sebagai refleksi, bukan sebagai aksi menggurui, karena hakikatnya saya berbicara pada diri sendiri, maka tentu saja bukan pula aksi sok suci. Bisa juga semua ini, semua gagasan yang terurai tak terurusi dan tak rapi ini mungkin hanya sekadar bentuk keprihatinan pribadi, ketika persaudaraan dan persahabatan yang harusnya bermuara dari solidaritas dan kasih sayang penuh yang membanggakan, kini justru banyak dipecundangi oleh nafsu dan ego sendiri.

Bahagia dengan Menyeimbangkan Raga


Pernahkah terlintas di pikiran kita, kenapa Allah SWT menciptakan kebanyakan manusia dengan dua tangan, yang dengan kedua tangan itu kita bisa melaksanakan aktivitas dengan baik, kok tidak satu tangan atau lebih?
Tentu saja kita tidak pernah memikirkannya! Atau kita memang menerima pemberian Allah SWT apa adanya tanpa tanda tanya. Di sini, kami bermaksud mengeluarkan atau menginformasikan apa yang pernah terlintas di pikiran penulis kepada para pembaca yang budiman sebagai tadabburan. Mari kita lihat sejenak firman Allah SWT:
ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار
“Wahai Tuhanku, kami meminta kepadamu nikmat di dunia dan nikmat di akhirat (surga) dan jauhkanlah kami dari siksaan api neraka. (Q.S. al-Baqarah: [2] 201).
Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia itu diperintah oleh Allah SWT untuk meminta dan bersungguh-sungguh mencari kebahagiaan dunia dan akhirat secara seimbang dan sama. Dari sini, mari kita arahkan keseimbangan itu pada anggota tubuh kita yang jumlahnya ada dua, contohnya tangan.
Allah SWT memberikan dua tangan kepada manusia agar manusia itu berusaha untuk mencari kehidupan dunia dan akhirat, karena manusia itu (pasti dan akan) hidup di dua alam, yakni dunia dan akhirat. Maka dari itu, manusia mencari dan berusaha di dunia untuk hidup di dunia, dan mencari pahala akhirat untuk nanti kehidupan akhirat yang abadi.
Mengenai masalah tangan kanan yang lebih sering digunakan untuk kebaikan seperti makan, bersalaman, dan lainnya. sedangkan tangan kiri  lebih condong digunakan untuk hal-hal jorok, itu mengisyaratkan bahwa mencari akhirat harus lebih ditekankan dari pada mencari dunia, sebab hidup di dunia itu hanya sementara (dan dunia sama dengan sampah yang berserekan), dan hidup di akhirat pastilah abadi.
Karena itu, mau tidak mau kita diharuskan bersungguh-sungguh mencari kehidupan akhirat, dan mencari kehidupan dunia ala kadarnya saja. Sesuai kebutuhan untuk terus menguatkan anggota tubuh untuk melakukan ketaatan kepada Allah SWT.
Kehidupan dunia yang mesti ala kadarnya saja itu sama dengan saat kita memasuki WC. Setelah kita menyelesaikan urusan kita di dalam WC, kita dianjurkan agar secepatnya keluar (karena WC dan Jedding tempatnya syetan dan kotoran).
Begitupun dengan dunia, dunia bagaikan racun yang mematikan, merusak pada sistem kehidupan akhirat. Maka, untuk cermat, cara hidup bahagia dunia-akhirat adalah dengan sama-sama mencari keduanya. Akan tetapi, mencari dunia digunakan untuk sekadar menguatkan tubuh, dan agar kita mampu melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT. Jika kita bisa melakukan demikian, maka status kita dalam kehidupan ini akan berimbang dan tak akan limbung.
Dalam salah satu Hadis yang diriwayatkan Abu Sa’id al-Khudri, beliau berkata: Rasulullah SAW duduk di atas minbar, dan kita semua berada di sekelilingnya. Beliau SAW berkata: “Sesungguhnya yang aku takutkan setelahku hanyalah sesuatu yang dapat membuka mutiara dunia dan perhiasan dunia pada kalian. (H.R. Bukhari Muslim).
Dalam Syarhul Hikam juga dijelaskan: di antara tanda-tanda orang yang mati mata hatinya adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari dunia, dan bermalas-malasan dalam mencari akhirat.

Maka dari itu, sudah seharusnya kita lebih mementingkan akhirat dari pada dunia. Dunia memang penting, tapi dunia dicari bukan untuk bermewah-mewahan atau berlomba-lomba dalam kekayaan, tapi dunia dicari untuk menyelamatkan agamanya agar bisa bahagia dunia dan akhirat.

Cara Mapan Menjaga Persahabatan


Ketika hendak berpisah, seorang lelaki yang sudah lama berteman dengan Ibrahim bin Adham berkata, “Utarakanlah aib yang pernah engkau lihat dariku, supaya aku bisa memperbaikinya.” Ibrahim kemudian menjawab, “Aku tak pernah menemukan aib dalam dirimu. Selain karena aku tak punya bagian untuk itu, aku juga selalu menganggap baik apa yang engkau kerjakan, dengan mereka-reka alasan atas apa yang telah engkau lakukan. Jika kau tetap ingin tahu, tanyakan saja pada orang lain.”
***
Kisah yang diceritakan Imam al-Qusyairi dalam Risalah-nya ini hanyalah sebagian kecil dari banyaknya cerita indah persahabatan para sufi. Sebuah keindahan yang dapat dirasakan dari cara mereka yang lebih mendahulukan mata bening hati ketika melihat sesuatu, daripada menggunakan pikiran, apalagi nafsu yang notebene-nya selalu membelenggu dalam kebenaran yang semu.

Melihat semua itu, masih dalam Risalah al-Qusyairiyah, tidak heran jika kemudian ulama sufi kemudian memetakkan persahabatan (yang sesungguhnya) menjadi tiga bagian, yang jika dicermati, semuanya akan menepi pada satu kesimpulan, saling menjaga perasaan. Tiga bagian itu:

Pertama, berteman dengan orang yang lebih tua atau tinggi derajatnya. Jika kita memiliki teman yang seperti ini, maka apapun yang kita lakukan, pada hakikatnya harus didasari dengan khidmah, melayani. Bisa dengan membantu kebutuhan mereka, atau menjaga rasahia dan kesalahan yang mereka lakukan, dengan dasar husnudz-dzan.

Mengenai pelayanan dalam persahaban ini, Sahal bin Ibrahim pernah bercerita, “Aku adalah teman Ibrahim bin Adham. Ketika aku sakit, Ibrahim melayani kebutuhanku dengan hartanya. Saat aku menginginkan sesuatu dan dia tidak punya apa-apa, dia jual kudanya tanpa sepengetahuanku, dan uang hasil menjual itu dia berikan kepadaku. Jauh hari setelah itu, aku menanyakan kudanya. Ketika aku tahu bahwa kudanya telah dijual, aku bertanya, “Lantas, jika ingin keluar, kita naik apa?” Dia menjawab, “Saudaraku, naiklah ke atas leherku ini.” Dia lalu menggendongku hingga tiga tempat persinggahan (Desa/Kota).”

Kedua, berteman dengan orang yang lebih muda umurnya atau lebih rendah derajatnya. Jika mempunyai teman seperti ini, apa yang akan kita lakukan padanya mesti didasari kasih sayang, sebagaimana jika kita berteman dengang orang yang sepadan umur dan sosialnya (bagian ketiga), maka harus saling menjaga perasaan dan memberikan penghormatan.

Dari tiga bagian yang telah disebutkan ini, kita lalu tidak asing dengan pribahasa “Menghotmati yang lebih tua dan mengasihi yang lebih muda”. Yaitu, dua sisi dari persahabatan yang memang mesti dipertahankan dengan saling mengerti dan saling melengkapi.

Namun, dewasa ini, seringkali kita temukan persahabatan yang nampak indah dari luar, tapi kenyataannya sangat busuk dari dalam. Semua itu terjadi karena mereka –bisa jadi juga kita– yang tidak mampu memahami bahwa esensi dari persahabatan adalah menciptakan tali persaudaraan, dan semua itu tidak akan terlaksana jika persahabatan hanya dibangun di atas pondasi egoisme pribadi.

Kita harus mengerti, persahabatan yang ideal akan sangat sulit tercapai jika yang lebih tua terus-menerus menuntut dihormati, sedangkan yang lebih muda tiada henti-hentinya meminta dikasihani. Sama-sama menuntut. Sama-sama tak diberi karena gengsi. Maka sama-sama memakan tuntutannya sendiri. Sama-sama tak dapat apa-apa. Sama-sama kecewa dan terluka. Kosong.

Tiba-tiba saya teringat Madura di pertengahan Ramadhan tiga tahun lalu, saat itu tetangga saya pernah bilang pada temannya, “Cepat ambilkan barang itu.” Mungkin karena bersikap terlalu keras dan memaksa ketika meminta. Mungkin karena yang dimintai tolong sedang lelah menahan teriknya Ramadhan, atau sangat mungkin kerena kedua-duanya, teman itu diam tak menjawab apa-apa. Tetangga saya kemudian membentak, “Kau harus menghormatiku karena aku lebih tua darimu!” Temannya yang lebih muda itu langsung menyela, “Kau harus mengasihaniku, karena aku lebih muda darimu. Maka tolong, ambillah sendiri, kita sama-sama punya kaki!”

Mungkin, dari sanalah tulisan ini lahir. Mungkin sebagai refleksi, bukan sebagai aksi menggurui, karena hakikatnya saya berbicara pada diri sendiri, maka tentu saja bukan pula aksi sok suci. Bisa juga semua ini, semua gagasan yang terurai tak terurusi dan tak rapi ini mungkin hanya sekadar bentuk keprihatinan pribadi, ketika persaudaraan dan persahabatan yang harusnya bermuara dari solidaritas dan kasih sayang penuh yang membanggakan, kini justru banyak dipecundangi oleh nafsu dan ego sendiri.

Artikel serupa persahabatan bisa bisa anda klik di sini

Bisa Mencari Teman Baik dalam 1 Hari!? Ini Dia Caranya


Salah satu makhluk yang ditakdirkan untuk selalu bisa membangun jaringan dan berkoloni adalah manusia. Maka, kita lihat, sangat sulit bagi mereka untuk bisa hidup sendiri tanpa seorang teman. Watak manusia yang perlu adannya perubahan dan cepat jenuh dengan keadaan yang itu-itu saja, sepertinya menjadi faktor utama akan kebutuhan untuk membangun pertemanan. Ditambah lagi rasa saling bahu-membahu, batu-membantu, menyebabkan hubungan bertambah menyenangkan: bila kita kerepotan, kemudian datanglah bantuan atau jasa yang sangat kita dibutuhkan.
Namun, kenyataannya, hubungan pertemanan tak selalu mendatangkan kebaikan. Kecendrungan manusia untuk cepat terpengaruh dapat menjadi fatal bila seseorang berteman dengan orang lain yang tidak dapat menanamkan benih-benih prinsip kehidupan yang bagus dan lurus. Justru, sangat mungkin seorang teman akan menjadi bumerang bagi diri sendiri: Datang bukan untuk menciptakan ketenangan, malah untuk membahayakan.
Bisa jadi, dari sinilah kemudian agama ikut-andil untuk memperbaiki hubungan yang berantakan, sehingga ia mempunyai teman yang dapat menumbuhkan rasa takwa dan memotivasi temannya untuk selalu mengindahkan aturan-aturan dalam agama.
Dalam Islam, hubungan pertemanan telah diatur sedemikian rapi, hingga bisa kita lihat, di sana ada tatakrama kepada teman, kepada siapa kita mesti menjalin hubungan, dan apa saja hak-hak yang harus kita penuhi dari seorang teman.
Namun, karena space yang tak memungkinkan, kami tidak akan mengulas secara tuntas aturan-aturan di atas. Kami lebih tertarik untuk membahas tentang seseorang yang layak untuk dilirik dan pantas kita pilih menjadi teman. Sebab, kami melihat masalah inilah yang sangat prinsip, mengingat kesalahan seseorang dalam memilih teman dapat menyebabkan urusan agama menjadi terlalaikan.

Setidaknya, ada lima poin yang mesti kita cari dari kepribadian seseorang, hingga kita benar-benar yakin bahwa dia memang pantas untuk kita jadikan sebagai lahan hubungan.


Pertama, Pandai.
Sangat penting bagi kita untuk mencari teman seorang yang pintar. Sebab, dengannya kita dapat saling sharing dan bertukar pendapat. Selain juga bisa memberikan masukan ketika kita dilanda kesulitan. Berbeda dengan orang bodoh, berteman dengan mereka hanya menghabiskan waktu saja. Tak ada manfaat yang dapat kita petik dari mereka. Paling tidak, mereka yang bodoh hanya akan ada disamping kepulan asap kopi, saat rokok yang disulut tak kunjung mati.

Kedua, Shaleh.
Berteman dengan mereka dapat menumbuhkan semangat kita beribadah. Ketika kita melihat mereka sedang malakukan ibadah, secara naluri manusia, lambat laun kita juga akan terobsesi untuk meniru kebiasaan itu. Sebaliknya, ketika kita berteman dengan orang fasik yang rutin melakukan maksiat, kita akan cenderung malas dan merasa ogah untuk hanya memikirkan nasib kita nanti di hari pembangkitan. Semua itu tidak mengherankan, karena melihat perbuatan maksiat saja, sudah dapat menyebabkan hati kita kotor dan sulit untuk melakukan aktifitas penghambaan.

Ketiga, Berakhlak Mulia.
Jika kita berteman dengan orang yang tidak bermoral maka biasanya pamor kita juga ikut jelek di mata orang lain. Itu sudah keniscayaan. Sebab, kebiasaan manusia dalam menilai seseorang, tidak melihat siapa dia sebenarnya, namun terlebih dahulu melihat dengan siapa dia berteman. Ini seperti yang banyak kita ketahui dari kitab-kitab moral yang pernah kita pelajari.

Keempat:, Tak menghiraukan dunia.
Dengan berteman dengan mereka maka kita juga akan mudah ‘mencerai’ dunia. Dengan demikian, ketika melakukan ibadah, konsentrasi kita akan bisa sangat fokus dan tidak akan terganggu. Apalagi dunia itu adalah akar dari segala macam kekeliruan. Contoh yang paling pas untuk orang yang sangat tidak suka dunia barangkali adalah Sayidina Ali. Bisa dicari sendiri.

Kelima, Jujur.
Berteman dengan mereka benar-benar menyenangkan. Selain dapat kita percaya, juga dapat memudahkan kita yang suka berbohong, untuk melakukan introspeksi diri guna kemudian melakukan pembenahan. Sebab, mereka tak akan membenarkan kesalahan kita dan menyalahkan kebenaran kita.

Intinya, dalam mencari teman, kita harus memilih mereka yang dapat menjadi “makanan” bagi diri kita. Yaitu, teman kita harus dapat mensuplai kita untuk senantiasa beribadah dan bertakwa kepada Allah.



*Pernah dipublikasikan oleh Fatihin di Mading Tafaqquh, Sidogiri