Tampilkan postingan dengan label Keagamaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keagamaan. Tampilkan semua postingan

Belajar Marah dari Rasulullah: Memahami Kemarahan Nabi Muhammad


Rasulullah Marah!?? Sebagaimana jamak diketahui, Nabi Muhammad adalah seorang manusia pilihan yang diutus Allah I ke muka bumi ini sebagai rahmatan lil ‘âlamîn. Beliau begitu istimewa beliau, hingga familiar dengan sebutan al-Basyar Laisa kal-Basyar, manusia luar biasa. Namun demikian, seistimewa apapun putra Sayid Abdullah ini, beliau  tetaplah manusia biasa (baca: normal) yang hidup dengan segala sifat kemanusiaannya: memiliki sifat susah, kadang gembira, sabar, bahkan kadang juga marah dan sangat marah ketika melihat sesuatu yang tidak disuka.

Bagaimana Nabi kita bisa marah, padahal beliau sendiri melarang umatnya untuk marah? Dalam riwayat Abu Hurairah t, Nabi pernah bersabda: “Orang yang kuat tidaklah mereka yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Imam Malik).

Masalah semacam ini, kadang dibuat kesempatan oleh-orang-orang yang ingin melemahkan imannya kaum Muslimin. Mereka berusaha mencuci otak kaum Muslimin agar tidak percaya lagi pada sabda-sabda Nabi Muhammad . Mereka mengumbar-umbar asumsi bahwa pekerjaan Nabi Muhammad banyak yang tidak sejalan dengan apa yang diucapkannya. Buktinya, kata mereka, Nabi Muhammad pernah menyuruh umatnya untuk tidak marah, tapi pada kenyataanya beliau sendiri juga pernah marah.

Untuk itu, artikel singkat ini akan mengkaji secara singkat mengenai “kemarahan Nabi.” Tujuan penulis adalah, tak lain hanya ingin mengupas tuntas masalah tersebut agar para pembaca secara khusus dan masyarakat Muslim secara umum selalu berkeyakinan bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad pasti benar dan sejalan dengan perintah Allah I.

Mengenai pertanyaan di atas, jawabannya ialah, kemarahan Nabi itu memang disebabkan oleh beberapa hal. Namun dapat dipastikan, kesemuanya bermuara pada satu sebab, yaitu sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan agama, bukan kepentingan pribadinya. Nabi perlu marah untuk memberikan penekanan bahwa hal tertentu tidak boleh dilakukan umatnya. Sebagai guru seluruh manusia dan pemberi petunjuk ke jalan yang lurus, Nabi perlu marah agar mereka menjauhi segala perbuatan yang tidak elok. Dan hal ini, tidaklah bertentangan dengan dua buah hadis di atas.

Oleh karena itu, Rasulullah pernah marah saat mendengar laporan bahwa Usamah bin Zaid membunuh orang yang sudah mengatakan lâ Ilâha illallâh (tiada Tuhan selain Allah) di medan perang. Sedangkan Usamah membunuhnya karena menyangka orang itu melafalkan kalam tauhid hanya untuk menyelamatkan diri. Akan tetapi Nabi menyalahkan Usamah dan berkali-kali mengatakan, “Apakah engkau membunuhnya setelah dia mengatakan lâ Ilâha illallâh?” (HR. al-Bukhari)
Di lain waktu, raut wajah Nabi pernah berubah karena marah, yakni ketika para Sahabat merayu beliau agar tidak memotong tangan seorang wanita yang mencuri. Alasan merekaialah, sebab wanita tersebut adalah wanita terpandang dari suku Bani Makhzum, salah satu suku besar Quraisy. Lantas Nabi menegaskan, “Apakah layak aku memberikan pertolongan terhadap tindakan yang melanggar aturan Allah?”(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Pada kejadian lain, di pasar Madinah, terjadi perselisihan antara seorang sahabat Nabi dengan pedagang Yahudi. Perselisihan itu sampai membuat si Yahudi bersumpah, “Demi Dzat yang telah memilih Musa u di antara manusia lainnya.” Ungkapan sumpah ini membuat sahabat Nabi itu marah. Ia menampar si Yahudi seraya berkata,“Kamu mengatakan ‘Demi Dzat yang telah memilih Musa u di antara manusia lainnya, sedang di tengah-tengah kita ada Nabi Muhammad ?”
Orang Yahudi tersebut tidak terima dengan perlakuan Sahabat Nabi itu. Ia pun bergegas menemui Nabi Muhammad untuk melaporkan kejadian tadi. Mendengar pengaduan itu, Nabi Muhammad marah dan mengatakan, “Janganlah kalian saling mengunggulkan Nabi yang satu dengan Nabi lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak hanya saat perintah Allah dilanggar, Nabi juga marah bila umatnya tidak segera melakukan kebaikan atau menangguhkan sesuatu yang seharusnya diutamakan. Hal itu sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Jarir bin Abdullah t yang mengisahkan, “Rasulullah pernah berkhutbah dan mendorong kami untuk bersedekah. Namun orang-orang lamban sekali dalam melaksanakan dorongan itu, hingga terlihat raut kemarahan di wajah beliau.” (HR. Ahmad)
Namun yang perlu diingat sebagaimana penjelasan di atas bahwa, Nabi tidak pernah marah karena urusan pribadi beliau. Sebagaimana riwayat Imam Bukhari bahwasanya, “Suatu ketika Rasulullah bersama para sahabatnya sedang berjalan menuju suatu tempat. Kemudian ada seorang Arab primitif yang dengan spontan menarik bagian atas jubah beliau dengan keras sampai leher beliau berwarna merah seraya berkata, ‘Hei, beri aku sedekah!’ Seketika itu pula Rasulullah menyuruh para Sahabatnya untuk memberikan sesuatu pada orang Arab tersebut tanpa marah sedikitpun.” (HR. Bukhari)

Juga, bila harus marah kepada seseorang, Nabi tidak langsung menegurnya di depan umum. Beliau tidak ingin menjatuhkan harga diri orang yang bersalah itu. Oleh karenanya, ketika beliau melihat seseorang mengarahkan pandangannya ke atas pada saat melaksanakan shalat, dimana hal itu adalah merupakan perbuatan yang dilarang syariat, beliau menegur perbuatan itu dengan bahasa yang umum. Nabi tidak menyebutkan nama orang yang melakukan hal itu, karena untuk menjaga perasaannya. Nabi hanya berkata, “Apa yang menyebabkan segolongan orang mengangkat pandangannya ke langit ketika melaksanakan shalat?” (HR. Bukhari). Pertanyaan Nabi ini dalam retorika Bahasa Arab disebut dengan istifham inkari (bentuk pertanyaan untuk mengungkapkan pengingkaran terhadap sesuatu). Dalam teguran ini, Nabi tidak menyebut nama orang yang berbuat salah di depan umum, namun hanya menyindirnya saja.

Melihat beberapa kajian di atas, kita bisa memahami bahwa Rasulullah tidak menyalahi ucapannya sendiri dalam hal melarang umat Islam untuk marah. Dengan demikian, kita jangan pernah meragukan lagi akan kebenaran tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad , walaupun secara zahir seakan tidak sejalan dengan apa yang kita anggap benar. Sebab, para Nabi dan Rasul telah mendapat jaminan dari Allah I tidak akan pernah berbuat kemaksiatan.

Berkah dan Keistimewaan Hari Jumat



Konon, seorang lelaki Majusi bersama keluarganya mendatangi Malik bin Dinar. Dia dan keluarganya menyatakan masuk Islam. Setelah diajari Islam oleh Malik bin Dinar, dia dan keluarganya pergi mencari tempat tinggal. Sesampainya di antara reruntuhan kota, dia menemukan sebuah bangunan yang rusak. Lalu dia dan keluarganya masuk ke dalam bangunan itu, di sanalah mereka beribadah kepada Allah.

Esok paginya, istrinya berkata, “Pergilah ke pasar, carilah pekerjaan, dan hasilnya gunakan untuk membeli makanan.” Berangkatlah lelaki itu ke pasar, tapi tak seorangpun yang memberinya upah. Dia berkata dalam hati, “Aku akan bekerja untuk Allah.” Laki-laki itu kemudian masuk ke masjid. Dia melakukan shalat sampai larut malam, lalu pulang ke rumahnya dengan tangan hampa. Saat ditanya oleh istrinya, dia menjawab, “Hari ini aku bekerja untuk yang Maha Satu, besok akan kuberikan uang belanjamu.” Malam itu keduanya tidur dalam keadaan lapar.

Esok harinya, dia pergi ke pasar untuk kedua kalinya. Namun nahas, hasilnya sama seperti hari pertama.

Pada hari ketiga, ketepatan hari Jum’at, dia kembali pergi ke pasar. Namun lagi-lagi dia tidak menemukan pekerjaan. Lelaki lalu tersebut pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at. Setelah melakukan shalat sunah, dia berdoa, “Wahai Tuhan, demi kemuliaan agama ini dan kemuliaan hari ini, tolonglah aku, aku takut keluargaku kembali ke agama mereka yang dulu sebab sangatnya rasa lapar.”

Ketika masuk waktu dzuhur, ada seseorang mendatangi bangunan yang di tempati istrinya. Setelah pintu diketuk, istrinya keluar dan ternyata yang datang bukan suaminya, melainkan seorang pemuda tampan yang di tangannya membawa wadah emas yang ditutupi sapu tangan. Pemuda itu berkata, “Ambillah! Dan katakan kepada suamimu: ini adalah upah pekerjaanmu untuk Allah di hari Jum’at. Pekerjaan sedikit di hari ini, upahnya besar dari Allah.”

Wanita itu lalu mengambil wadah emas tadi. Setelah penutupnya dibuka, dia terkejut, ternyata terdapat seribu dinar di wadah itu. Dia mengambil satu dinar dan membawanya ke pedagang untuk dibelikan makanan. Namun setelah ditimbang, dinar itu lebih berat dua kali lipat dari dinar biasanya. Si pedagang heran. Setelah dia melihat ukirannya, dia tahu kalau dinar yang ditimbangnya bukanlah dinar dunia. Pedagang tadi bertanya, “Darimana kau dapatkan dinar ini?” kemudian wanita tadi menceritakan kisahnya.

Setelah shalat Jum’at, suami si wanita itu pulang dengan membawa sapu tangan yang diisi tanah. Apabila istrinya bertanya, dia akan mengatakan kalau dirinya bekerja membuat tepung. Ketika masuk ke rumahnya, dia mencium bau makanan. Dia menanyakan perihal makanan tersebut kepada istrinya. Setelah mendengar cerita yang dialami istrinya, lelaki itu takjub dan langsung bersujud mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada keluarganya. Selesai sujud istrinya berkata, “Apa yang kau bawa dengan sapu tangan itu?” dia menjawab, “Jangan kau menanyakan itu.” Saat istrinya membukanya, dengan izin Allah dan kemuliaan shalat Jum’at, tanah yang dibawanya telah berubah menjadi tepung. Melihat keajaiban itu, lelaki itu langsung sujud lagi kepada Allah.

Bahagia dengan Menyeimbangkan Raga


Pernahkah terlintas di pikiran kita, kenapa Allah SWT menciptakan kebanyakan manusia dengan dua tangan, yang dengan kedua tangan itu kita bisa melaksanakan aktivitas dengan baik, kok tidak satu tangan atau lebih?
Tentu saja kita tidak pernah memikirkannya! Atau kita memang menerima pemberian Allah SWT apa adanya tanpa tanda tanya. Di sini, kami bermaksud mengeluarkan atau menginformasikan apa yang pernah terlintas di pikiran penulis kepada para pembaca yang budiman sebagai tadabburan. Mari kita lihat sejenak firman Allah SWT:
ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار
“Wahai Tuhanku, kami meminta kepadamu nikmat di dunia dan nikmat di akhirat (surga) dan jauhkanlah kami dari siksaan api neraka. (Q.S. al-Baqarah: [2] 201).
Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia itu diperintah oleh Allah SWT untuk meminta dan bersungguh-sungguh mencari kebahagiaan dunia dan akhirat secara seimbang dan sama. Dari sini, mari kita arahkan keseimbangan itu pada anggota tubuh kita yang jumlahnya ada dua, contohnya tangan.
Allah SWT memberikan dua tangan kepada manusia agar manusia itu berusaha untuk mencari kehidupan dunia dan akhirat, karena manusia itu (pasti dan akan) hidup di dua alam, yakni dunia dan akhirat. Maka dari itu, manusia mencari dan berusaha di dunia untuk hidup di dunia, dan mencari pahala akhirat untuk nanti kehidupan akhirat yang abadi.
Mengenai masalah tangan kanan yang lebih sering digunakan untuk kebaikan seperti makan, bersalaman, dan lainnya. sedangkan tangan kiri  lebih condong digunakan untuk hal-hal jorok, itu mengisyaratkan bahwa mencari akhirat harus lebih ditekankan dari pada mencari dunia, sebab hidup di dunia itu hanya sementara (dan dunia sama dengan sampah yang berserekan), dan hidup di akhirat pastilah abadi.
Karena itu, mau tidak mau kita diharuskan bersungguh-sungguh mencari kehidupan akhirat, dan mencari kehidupan dunia ala kadarnya saja. Sesuai kebutuhan untuk terus menguatkan anggota tubuh untuk melakukan ketaatan kepada Allah SWT.
Kehidupan dunia yang mesti ala kadarnya saja itu sama dengan saat kita memasuki WC. Setelah kita menyelesaikan urusan kita di dalam WC, kita dianjurkan agar secepatnya keluar (karena WC dan Jedding tempatnya syetan dan kotoran).
Begitupun dengan dunia, dunia bagaikan racun yang mematikan, merusak pada sistem kehidupan akhirat. Maka, untuk cermat, cara hidup bahagia dunia-akhirat adalah dengan sama-sama mencari keduanya. Akan tetapi, mencari dunia digunakan untuk sekadar menguatkan tubuh, dan agar kita mampu melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT. Jika kita bisa melakukan demikian, maka status kita dalam kehidupan ini akan berimbang dan tak akan limbung.
Dalam salah satu Hadis yang diriwayatkan Abu Sa’id al-Khudri, beliau berkata: Rasulullah SAW duduk di atas minbar, dan kita semua berada di sekelilingnya. Beliau SAW berkata: “Sesungguhnya yang aku takutkan setelahku hanyalah sesuatu yang dapat membuka mutiara dunia dan perhiasan dunia pada kalian. (H.R. Bukhari Muslim).
Dalam Syarhul Hikam juga dijelaskan: di antara tanda-tanda orang yang mati mata hatinya adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari dunia, dan bermalas-malasan dalam mencari akhirat.

Maka dari itu, sudah seharusnya kita lebih mementingkan akhirat dari pada dunia. Dunia memang penting, tapi dunia dicari bukan untuk bermewah-mewahan atau berlomba-lomba dalam kekayaan, tapi dunia dicari untuk menyelamatkan agamanya agar bisa bahagia dunia dan akhirat.

Anda Yang Percaya Berkah, Harus Tahu Macam-Macamnya


أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ  [الأعراف: 54]
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ´Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam
Dalam kitab tafsir shawi, kata barakah  beratikan mengagungkan. Artinya seseorang mengagungkan sesuatu. Dalam ayat tersebut menyebutkan Allah
وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا [الأنعام: 92]
Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya
Menurut az-Zujaj kata barakah  berartikan mendatangkan kebaikan yang melimpah. Sedangkan dalam tafsir shawi berarti kitab yang mendatangkan kebaikan (al-Quran)
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ [الأعراف: 96]
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya
Tafsir shawi juga mendefinikan kata barakah  dengan tambahnya kebaikan dalam sesuatu. Sesuatu yang di dalamnya terdapat berkah Ilahi. Mengingat kebaikan Allah datang dari arah dan tempat yang tidak terindra.
Dari semua arti barakah  yang berbeda-beda, penulis dapat menyimpulkan bahwa barakah  mengandung arti yang bermacam-macam meninjau susunan pembahasan. Namun penulis di sini sedikit tertarik dengan barakah  yang berartikan ‘Tambahnya kebaikan dalam sesuatu’, karena berhubungan dengan amaliah NU.

Pembahasan
            Barakah  itu ada dan sebagai orang mukmin wajib untuk mengimaninya. Dalam beberapa hadis, terdapat banyak anjuran untuk mengharap barakah , sebagaimana dalam shahih bukhari, Rasulullah pernah bersabda, “Cendawan merupakan karunia dari Tuhan. Dan airnya bisa menyembukan penyakit mata”. Rasulullah juga pernah bersabda, “Sesungguhnya biji yang hitam adalah penawar dari segala penyakit selain kematian. (HR. Bukhari)
            Kita semua meyakini, bahwa kebaikan, manfaat, bahaya, cobaan dan semuanya datangnya dari Allah. Meskipun demikian tidak bisa dibenarkan mencari kesembuhan dari cendana dan biji hitam. Semuanya hanya sarana dari sekian banyak sarana yang terkadang mujarab dan terkadang juga tidak. Untuk bisa mendapat kesembuhan diharuskan untuk menanamkan pada hatinya bahwa semuanya itu atas izin Allah.
            Demikian pula berkah. Ia adalah dari Allah. Apa yang bersandar pada berkah sama halnya menyandarkan pada sebabnya. Sebagaimana yang dikatakan Aisyah tentang Juwairiyah, “Aku tidak pernah melihat seorang wanita yang lebih berkah kepada kaumnya daripada Juwairiyah” (al-Musnad)
            Jadi Juwairiyah hanya sebab dari berkah saja, karena sejak Juwairiyah dinikahi Rasulullah banyak sahabat yang memerdekakan tawanan perang. Di mana saat itu Rasulullah menjadi menantu Bani Musthaliq. Ini berkah yang sangat agung dan penyebabnya adalah Juwairiyah. Jadi sesuatu yang diberkahi hanyalah sebagi penyebab saja, sedangkan si pemberi adalah Allah.

Tabaruk yang Diperbolehkan
            Pertama, tabaruk kepada Rasulullah. Dari Anas, “Aku pernah menyaksikan Rasulullah tengah dicukur. Beliau dikelilingi oleh para sahabat. Mereka tidak menginginkan sehelai pun jatuh percuma tanpa di dapat orang diantara mereka.

            Kedua, tabaruk terhadap ucapan dan perbuatan. Rasulullah bersabda, “Allah memiliki beberapa malaikat yang kerjanya berkeliling mencari orang yang berzikir. Manakala mereka mendapati satu kaum yang tengah berzikir, mereka lantas mempersilahkan kaum itu untuk menyebutkan hajatnya. Lalu Allah berkata, ‘persaksikanlah, bahwa aku telahmengampuni mereka”’.

            Jika ada ucapan yang di berkahi, maka juga ada perbuatan yang diberkahi seperti perang di jalan Allah, makan dengan tatakrama. Rasulullah bersabda, “berkumpullah di dekat makananmu dan sebutlah nama Allah, niscaya Allah memberkahi makananmu.” Rasulullah juga pernah bersabda, “Apabila salah satu dari kalian makan, maka jilatilah jari jemarinya. Karena sesungguhnya dia tidak mengetahui jari-jari mana yang ada berkahnya.”

Tabaruk yang Dilarang
            Berkah yang diambil sahabat kepada Rasulullah, itu tidak berlaku pada selain Rasulullah, karena Nabi tidak bisa disamakan dengan selainnya. Dalil yang dipakai adalah tindakan para sahabat termasuk khulafaurasyidin. Tidak ada seorangpun yang mencari keringat atau air wudu’ Abu Bakar.
            Tabaruk yang dilakukan kepada Nabi adalah ibadah, ibadah harus ittiba’. Seandainya boleh tabaruk pada selain nabi, maka tentu pernah dilakukan para sahabat, dan kenyataannya mereka tidak melakukan.

Dari sini penulis dapat menyimpulkan, bahwa tabaruk dilarang kepada selain nabi ada dua kemungkinan. Yaitu, memang tabaruk hanya kepada nabi, dan khawatir dijadikan sebagai sunnah sedangkan orang awam cenderung berlebihan. Akan tetapi penulis lebih condong pada kemungkina pertama, karena Umar bin Khattab pernah memotong pohon keramat, khawatir orang-orang memohon pada selain Allah dan juga umar tidak melarang shalat di situ. Jika boleh mengambil berkah dari peninggalan nabi dan orang shaleh, maka Umar tidak mungkin menebang pohon tersebut. Rasulullah juga pernah bersabda, “sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lisannya dan hatinya Umar.”


            Maka, tabarukan kepada selain nabi tidak diperkenankan, karena tidak ada dalil dan sahabat juga tidak pernah melakukan. Selain itu menghilangkan ketergantungan hati pada selain Allah. Tapi dalam pandangan Allah, amalan shaleh jauh lebih baik daripada mencari berkah. Dari Abdurrohman bin Abi Qirad. Nabi wudu’ pada stu hari. Oleh para sahabat air sisa wudu’ diusap-usap pasa tubuhnya. Lalu Rasulullah bersabda, “apa yang mendorongmu berbuat itu?” “demi mencintai Allah dan Rasul” kata sahabat. “barang siapa yang mencintai Allah dan Rsulnya, maka hendaklah jujur dalam berbicara, amanat dan berbuat baik pada tetangga.”

Ingin Mendapatkan Pahala dengan Perasaan Cinta, Ini Dia 5 Caranya








             "Cinta itu dijaga, bukan diperkosa!” kata seorang teman dalam statusnya. Pertama 
kali  membacanya saya langsung memberikan like-super. Kita tahu, cinta adalah rasa yang pasti        mendatangi setiap manusia (fitrah). Ironinya, banyak remaja minta “gitu-gituan” atas nama cinta! Lantas, bagaimana caranya bisa mendapatkan pahala jika kita menodainya dengan cara seperti itu?

Inilah 5 cara terbaik agar kita bisa menjaring pahala dengan cinta, dengan tanpa menyentuh dosa:


     1.   Sadar: dari Allah, karena Allah, dan untuk Allah

Sebenarnya, hal pertama ini bukan hanya terarah pada cinta, tapi semua apa yng kita kerjakan. Maka dari itu hal ini adalah yang sangat penting. Ketika cinta yang ada diniati karena Allah, maka semua akan berjalan dengan nyaman meski itu menuai kegagalan. Tak ada kegagalan untuk disedihkan, dan tak ada keberuntungan untuk dibanggakan, karena semuanya hanya dari Allah, karena Allah, untuk Allah.
Ketika bisa memahami hal seperti ini, maka kita telah hidup dengan sempurna. Ketika kita telah hidup sempurna, maka sadarlah bahwa semua itu karena kasih sayang Allah. Ketika sadar semua itu kasih sayang Allah, maka “sayangilah” Allah dengan ibadah kepada-Nya. Ketika sudah beribadah, maka selamat, Anda akan mendapatkan pahala (meski pahala adalah bukan tujuan utama)


     2.  Jangan Nodai dengan Pacaran
Kenapa hal ini mesti diungkapkan, karena pacaran sangat berbahaya! Yang paling parah adalah ketika sampai pada perzinanhan. Allah bersabda: 


وَلَا تَقْرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

 “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra' 17:32)
Kalau mendekat saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan. Karena itu, dalam kitab Fathul Mu’in karya al-Malibari dijelaskan bahwa zina termasuk kabaair (dosa besar), dan ini konsesus ulama.
Ini baru zina, belum memandang dampak negatif lain yang bisa ditimbulkan oleh pacara, seperti mengurangi produktivitas dan minat belajar (karena yang dipikirkan hanyalah dia-dia yang dicintainya), menjadikan hidup boros (karena suka kencan, beli pulsa dan paketan), dan lain sebagainya. Maka, hindari saja pacaran ini.


    3.    Muliakan dengan Pernikahan

Menikah adalah cara paling ampuh untuk mengarahkan jalannya rasa yang bergejolak seperti cinta, sekaligus cara jitu untuk menutup pintu dosa. Kita pasti sadar (meski kadang tidak menyadari) bahwa apa yang disebut cinta oleh anak-anak zaman sekarang adalah rasa yang menjadi jalan untuk bisa berpegangan tangan, berpelukan, ciuman, atau bahkan “gitu-gituan” dengan lawan jenis yang kita inginkan.
Gejolak asmara (seperti nafsu) remaja yang cenderung tak terkendali, memang banyak merugikan kehormatan dan uang. Karena itulah mungkin Nabi Muhammad menganjurkan para pemuda yang mampu (dalam hal kesiapan, seperti finansial-mahar), untuk segara melangsungkan pernikahan. Beliau bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ
وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai pemuda, barang siapa dari kalian telah mampu (menikah), maka menikahlah! Karena menikah lebih bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan (kehormatan). Dan barang siapa yang tidak mampu berpuasalah, karena puasa bisa menyebabkan lapar (mengurangi syahwat).” (HR Imam Ahmad bin Hanbal)  


    4.   Diamkan (tak perlu diungkapkan)
Kalau untuk menikah tidak mampu, sedangkan dilajutkan dengan pacaran takut dosa (dan memang wajib untuk takut!) maka biarkan saja perasan itu mendiami hatimu, dengan tanpa ada siapa pun orang yang tahu. Hal ini lebih baik dari pada kita sebarkan kemana-mana perasaan kita, seperti film-film roman remaja bangsa kita.
Kenapa mesti didiamkan? Ada keuntungan tersendiri bagi mereka mengerjakan hal ini (mendiamkan cinta). Pertama tidak mungkin terjerumus dalam dosa-zina, tidak mendatangkan kerugian lain seperti yang dijelaskn pada no. 2 di atas. Lebih dari keuntunggan ini, orang yang mati karena memendam cinta, asal tidak pernah diungkapakan pada siapa pun, maka matinya tergolong syahid fil akhirat.
Syahid Akhirat itu seperti orang yang meninggal teraniaya tanpa adanya peperangan, mati akibat sakit perut, wabah penyakit, tenggelam, berkelana, mencari ilmu, dimabuk cinta, tercerai, berada di daerah musuh dan sebagainya (Al-Fiqh al-Islaam II/699).


     5.   Pasrahkan pada Tuhan
Nah, cara terakhir adalah dengan bertawakkal kepada Allah. Ada banyak keuntungan ketika kita memasrahkan segala-galanya (tak terkecuali masalah cinta) kepada pada Allah. Pertama, kita lebih merasa tenang dan menyadari ketidakmampuan kita sebagai manusia. Dan, bukankah waktu yang paling bagus adalah waktu ketika manusia menyadari kepapaannya, seperti kata Ibnu Athaillah dalam Hikam-nya?
Kedua, dengan tawakkal kita bisa lebih memahami bahwa apa yang Allah kehendaki adalah yang terbaik bagi kita. Kata Andrea dalam novelnya Padang Bulan, “Tak selembarpun daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Tuhan, apapun yang terjadi pada kita sekarang, itulah yang dikehendakinya.”
Ketika, tawakkal bisa membangun kepercayaan kita kepada Tuhan, selain juga dapat membuat kita lebih berpikir dewasa dan mandiri.
Oleh karenya, apapun yang dihadapi, adukan dan serahkan saja cobaan kita kepada Dzat Sang Pemberi Cobaan, pasti lebih baik.